Tamu itu bisa jadi tak pernah datang. Tamu itu bisa
jadi hanya bayangan ketakutanku: bila Rasulullah Muhammad benar-benar bertamu
ke rumahku. Tamu itu bisa jadi hanya pancaran dari rasa takutku. Rasa takut ini
barangkali muncul dari pengakuanku yang jauh panggang dari pada api. Saya
mengaku Islam dan itu berarti mengikuti Rasulullah Muhammad, namun kenyataannya
tentu jauh berbeda. Jangankan mengikuti tindakannya, buku sejarahnya saja
tertumpuk di bagian paling bawah; al-Quran yang diterima Nabi saw tak pernah
saya baca. Ini sebenarnya rasa takut yang bercampur dengan rasa malu.
Semakin aku mereka jawaban, semakin jauh panggang
daripada api. Rasulullah Muhammad saw yang agung, ternyata melewatkan
kehidupannya dalam kemiskinan; makan tanpa pilihan dan “tidak pernah mengisi
perutnya sehari dengan dua macam makanan”. Sementara saya begitu menumpuk
makanan dan itupun dengan perasaan yang masih terus kurang. Sementara setiap kali makan, saya selalu
menyelidik kesal pada istriku yang melulu menghidangkan makanan satu jenis: tempe , “Mana lainnya?”
Maka kubuka saja Hayat Muhammad, kucari lagi
buku-buku yang lain yang menuliskan kisah hidup Manusia Teragung ini. Dan
dengan sembarang saya menemukan kisah kehidupannya yang membuatku semakin takut
dan malu:
“Hingga wafat, beliau dan
keluarganya belum pernah tiga hari kenyang terus-menerus dan belum pernah makan
roti pilihan” (HR Imam Ahmad bin Hanbal-Muslim)
“Siti Aisyah mengatakan, Rasulullah saw tidak pernah mengisi perutnya
sehari dengan dua macam makanan. Bila sudah kenyang makan kurma beliau tidak
makan gandum, dan bila sudah kenyang makan gandum beliau tidak makan kurma.”
(HR Ibnu Saad di dalam At-Tabaqat)
Membaca hadits ini, saya jadi merinding. Kenapa Rasul yang mulia, yang
begitu dekat dengan Allah begitu rela menderita? Bukankah ia tinggal berkata
pada sahabat Utsman bin Affan yang kaya raya atau sahabat lainnya untuk
mendapat tunjangan sebagai pemimpin ummat? Bukankah ia begitu banyak mendapat
bagian khumush (20 %) dari rampasan perang?
Rasulullah konon begitu
mencintai orang miskin. Sampai beliau pernah berkata, “Carilah aku di tengah
fakir miskin”. Rupanya seluruh kehidupannya digunakan untuk bersama dan
menyantuni fakir miskin. Rupanya seluruh hartanya diberikan pada fakir miskin
itu. Lalu demi pemuliaan orang-orang miskin ini, roti terbaik diberikan kepada
mereka; sedang bagi dirinya hanya roti sisa.
Bila Rasulullah datang ke rumahku, dan
mengetahui ada banyak makanan yang menumpuk di kulkas dan di gudang; apakah
yang akan saya katakan padanya? Oh ya…saya akan menjamu beliau dengan semua
makanan yang ada, “Semuanya makanan pilihan, Ya sayyid! Silakan disantap!”
ujarku sambil meempersilakan semua makanan ini.
Beliau tentu akan menerimanya, karena beliau
sangat santun dan tak pernah menyalahkan orang secara langsung. Namun ketika
saya menyatakan itu, di mana saya akan meletakkan mukaku? Karena pada saat itu,
sejumlah pertanyaan lain akan bermunculan: Apakah seluruh fakir miskin di
kampung ini telah kupastikan tidak
kelaparan, dan semua yang tersimpan di gudang adalah sisa-sisa atau cadangan
untuk sedekah esok hari?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar