Kamis, 09 Mei 2013

RASA TAKUT YANG TAK BIASA



Tamu itu bisa jadi tak pernah datang. Tamu itu bisa jadi hanya bayangan ketakutanku: bila Rasulullah Muhammad benar-benar bertamu ke rumahku. Tamu itu bisa jadi hanya pancaran dari rasa takutku. Rasa takut ini barangkali muncul dari pengakuanku yang jauh panggang dari pada api. Saya mengaku Islam dan itu berarti mengikuti Rasulullah Muhammad, namun kenyataannya tentu jauh berbeda. Jangankan mengikuti tindakannya, buku sejarahnya saja tertumpuk di bagian paling bawah; al-Quran yang diterima Nabi saw tak pernah saya baca. Ini sebenarnya rasa takut yang bercampur dengan rasa malu.
            Semakin aku mereka jawaban, semakin jauh panggang daripada api. Rasulullah Muhammad saw yang agung, ternyata melewatkan kehidupannya dalam kemiskinan; makan tanpa pilihan dan “tidak pernah mengisi perutnya sehari dengan dua macam makanan”. Sementara saya begitu menumpuk makanan dan itupun dengan perasaan yang masih terus kurang.  Sementara setiap kali makan, saya selalu menyelidik kesal pada istriku yang melulu menghidangkan makanan satu jenis: tempe, “Mana lainnya?”

Maka kubuka saja Hayat Muhammad, kucari lagi buku-buku yang lain yang menuliskan kisah hidup Manusia Teragung ini. Dan dengan sembarang saya menemukan kisah kehidupannya yang membuatku semakin takut dan malu:  
 “Hingga wafat, beliau dan keluarganya belum pernah tiga hari kenyang terus-menerus dan belum pernah makan roti pilihan” (HR Imam Ahmad  bin Hanbal-Muslim)

“Siti Aisyah mengatakan, Rasulullah saw tidak pernah mengisi perutnya sehari dengan dua macam makanan. Bila sudah kenyang makan kurma beliau tidak makan gandum, dan bila sudah kenyang makan gandum beliau tidak makan kurma.” (HR Ibnu Saad di dalam At-Tabaqat)

Membaca hadits ini, saya jadi merinding. Kenapa Rasul yang mulia, yang begitu dekat dengan Allah begitu rela menderita? Bukankah ia tinggal berkata pada sahabat Utsman bin Affan yang kaya raya atau sahabat lainnya untuk mendapat tunjangan sebagai pemimpin ummat? Bukankah ia begitu banyak mendapat bagian khumush (20 %) dari rampasan perang?
            Ada lagi sejumlah pertanyaan, bagaimana Rasul mulia ini bisa mengajak keluarganya mengikuti jalannya? Bagaimana beliau bisa menerima begitu saja roti yang tersaji tanpa nafsu untuk memilih?
            Rasulullah konon begitu mencintai orang miskin. Sampai beliau pernah berkata, “Carilah aku di tengah fakir miskin”. Rupanya seluruh kehidupannya digunakan untuk bersama dan menyantuni fakir miskin. Rupanya seluruh hartanya diberikan pada fakir miskin itu. Lalu demi pemuliaan orang-orang miskin ini, roti terbaik diberikan kepada mereka; sedang bagi dirinya hanya roti sisa.
             Bila Rasulullah datang ke rumahku, dan mengetahui ada banyak makanan yang menumpuk di kulkas dan di gudang; apakah yang akan saya katakan padanya? Oh ya…saya akan menjamu beliau dengan semua makanan yang ada, “Semuanya makanan pilihan, Ya sayyid! Silakan disantap!” ujarku sambil meempersilakan semua makanan ini.
Beliau tentu akan menerimanya, karena beliau sangat santun dan tak pernah menyalahkan orang secara langsung. Namun ketika saya menyatakan itu, di mana saya akan meletakkan mukaku? Karena pada saat itu, sejumlah pertanyaan lain akan bermunculan: Apakah seluruh fakir miskin di kampung ini telah kupastikan  tidak kelaparan, dan semua yang tersimpan di gudang adalah sisa-sisa atau cadangan untuk sedekah esok hari?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar