Rabu, 15 Mei 2013

MEMBALAS DENGAN WELAS (1)

Carilah saudaramu yang lain, ya Rasulullah, karena saya ternyata bukan saudaramu itu. Saya ternyata tak cukup peka untuk menerima rahimmu yang kedua. Sebagai saudara seharusnya saya menjaga nama baikmu, seharusnya juga saya memiliki sifat dan karakter yang menarik: semulia engkau. Tapi saya ternyata menjadi saudara yang seperti Abu Jahal atau Abu Lahab.
Atau barangkali saudaramu adalah Gede Prama? Ia soalnya pernah menulis paragraf-paragraf hikmah ini:
Andaikan di suatu pagi Anda bangun pagi hari, membuka pintu depan rumah, eh ternyata di depan pintu ada sekantong tahi sapi. Lengkap dengan pengirimnya: tetangga depan  rumah. Pertanyaan saya sederhana saja: bagaimanakah reaksi Anda? Saya sudah menanyakan pertanyaan ini ke ribuan orang. Dan jawabannya pun sangat beragam.
Yang jelas, mereka yang pikirannya negatif –seperti sentimen, benci, dan sejenisnya—menempatkan tahi sapi tadi sebagai awal dari permusuhan (bahkan mungkin peperangan) dengan tetangga depan rumah. Sebaliknya, mereka yang melengkapi diri dengan pikiran-pikiran positif –sabar, tenang, dan melihat segala sesuatunya dari  segi baiknya—menempatkannya sebagai awal persahabatan dengan tetangga depan rumah. Bedanya, sangatlah sederhana. Yang negatif melihat tahi sapi sebagao kotoran yang menjengkelkan, pemikir positif meletakkannya sebagai hadiah pupuk untuk tanaman halaman rumah yang memerlukannya.[1]
Lihatlah betapa luar biasa penghayatan Gede Prama  akan akhlak karimah. Bukankah ini kisah yang sama dengan kisah ketika engkau, Ya Rasul, membalas lemparan tai onta di kepalamu dengan jengukan bersahabat. Saat itu engkau bersujud di Kabah, lalu seseorang kafir Quraisy yang iseng dan dibakar benci melemparimu dengan tai Onta. Fatimah anakmu menangis, tapi kau bersabar dan bersabar. Bahkan ketika si iseng itu terkabarkan sakit, engkau bersegera mengunjungi untuk menjenguk. Mulia sekali engkau, dan tulisan Gede Prama menangkapnya. Sedang kami yang mengaku muslim tak sempat mengaplikasikannya.
            Saat saya menulis surat ini, Bali diguncang bom. 25 orang tewas, puluhan lainnya luka-luka. Entah siapa yang melakukannya. Mainstream media biasanya menuduhkan perilaku ini pada ummat Islam Fundamentalis. Kau tentu kaget mendengar pemilahan ini, ada Islam fundamentalis dan ada juga nama lainnya yang lebih seram: terorisme. Konon, Islam Fundamentalisme ini adalah sekelompok orang yang begitu merasa malu kepadamu, sehingga bertekad dengan jalan kekerasan merobohkan bangunan peradaban modern di pelbagai negeri. Mereka bermimpi akan tatanan yang sesuai dengan anjuranmu, lalu berusaha dan putus asa, kemudian meradang dengan cara menghancurkan banyak pihak.
            Tentu saja saya merasa prihatin pada mereka, sekaligus merasakan kewajaran. Di tengah kehidupan yang sudah ruwet ini terorisme adalah cara tercepat dan memungkinkan. Hidup modern yang penuh janji kemakmuran, semakin lama terasa semakin sempit. Para pemikir di negeri asal kemodernan atau di negeri pengusung kemodernan pun telah muncul keputusasaan atas situasi ini. Mereka telah ramai-ramai menghojat dasar-dasar pemikiran seraya berkata:


[1] Gede Prama, Dengan Hati menuju Tempat Tertinggi, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2001, hal. 147-148

Tidak ada komentar:

Posting Komentar