Carilah saudaramu yang lain, ya Rasulullah,
karena saya ternyata bukan saudaramu itu. Saya ternyata tak cukup peka untuk
menerima rahimmu yang kedua. Sebagai saudara seharusnya saya menjaga nama
baikmu, seharusnya juga saya memiliki sifat dan karakter yang menarik: semulia
engkau. Tapi saya ternyata menjadi saudara yang seperti Abu Jahal atau Abu
Lahab.
Atau barangkali saudaramu adalah Gede Prama? Ia soalnya pernah menulis
paragraf-paragraf hikmah ini:
Andaikan di suatu pagi Anda
bangun pagi hari, membuka pintu depan rumah, eh ternyata di depan pintu ada
sekantong tahi sapi. Lengkap dengan pengirimnya: tetangga depan rumah. Pertanyaan saya sederhana saja:
bagaimanakah reaksi Anda? Saya sudah menanyakan pertanyaan ini ke ribuan orang.
Dan jawabannya pun sangat beragam.
Yang jelas, mereka yang
pikirannya negatif –seperti sentimen, benci, dan sejenisnya—menempatkan tahi
sapi tadi sebagai awal dari permusuhan (bahkan mungkin peperangan) dengan
tetangga depan rumah. Sebaliknya, mereka yang melengkapi diri dengan pikiran-pikiran
positif –sabar, tenang, dan melihat segala sesuatunya dari segi baiknya—menempatkannya sebagai awal
persahabatan dengan tetangga depan rumah. Bedanya, sangatlah sederhana. Yang
negatif melihat tahi sapi sebagao kotoran yang menjengkelkan, pemikir positif
meletakkannya sebagai hadiah pupuk untuk tanaman halaman rumah yang
memerlukannya.[1]
Lihatlah betapa luar biasa penghayatan Gede Prama akan akhlak karimah. Bukankah ini kisah yang
sama dengan kisah ketika engkau, Ya Rasul, membalas lemparan tai onta di
kepalamu dengan jengukan bersahabat. Saat itu engkau bersujud di Kabah, lalu
seseorang kafir Quraisy yang iseng dan dibakar benci melemparimu dengan tai
Onta. Fatimah anakmu menangis, tapi kau bersabar dan bersabar. Bahkan ketika si
iseng itu terkabarkan sakit, engkau bersegera mengunjungi untuk menjenguk.
Mulia sekali engkau, dan tulisan Gede Prama menangkapnya. Sedang kami yang
mengaku muslim tak sempat mengaplikasikannya.
Saat saya menulis surat ini, Bali diguncang
bom. 25 orang tewas, puluhan lainnya luka-luka. Entah siapa yang melakukannya.
Mainstream media biasanya menuduhkan perilaku ini pada ummat Islam Fundamentalis.
Kau tentu kaget mendengar pemilahan ini, ada Islam fundamentalis dan ada juga
nama lainnya yang lebih seram: terorisme. Konon, Islam Fundamentalisme
ini adalah sekelompok orang yang begitu merasa malu kepadamu, sehingga bertekad
dengan jalan kekerasan merobohkan bangunan peradaban modern di pelbagai negeri.
Mereka bermimpi akan tatanan yang sesuai dengan anjuranmu, lalu berusaha dan
putus asa, kemudian meradang dengan cara menghancurkan banyak pihak.
Tentu saja saya merasa prihatin pada mereka, sekaligus
merasakan kewajaran. Di tengah kehidupan yang sudah ruwet ini terorisme adalah
cara tercepat dan memungkinkan. Hidup modern yang penuh janji kemakmuran,
semakin lama terasa semakin sempit.
[1] Gede
Prama, Dengan Hati menuju Tempat Tertinggi, Elex Media Komputindo, Jakarta , 2001, hal.
147-148
Tidak ada komentar:
Posting Komentar