Kamis, 09 Mei 2013

PERTEMUAN ANEH

            Surat itu terlupakan juga.

Kesibukan selalu memberi beban dan menutupi rasa penasaran yang sempat mendesak kesadaranku.
Saya sedang di dalam rumah, asyik menonton TV siaran dangdut yang sedang bergoyang. Inilah kesibukan harianku. Mendadak ada suara merdu dari arah depan , “Assalamu`alaikum…!”
Saya mendengarnya dengan jelas, namun mata dan syahwatku sedang asyik mengikuti goyang ngebor, atau kayang, atau  vibrator. Maka tak segera kubuka pintu, saya biarkan tamu berdiri di balik pintu sana. Suara Assalamu’alaikum kembali terdengar. Dengan langkah berat, saya melangkah menuju pintu, kepala saya masih penuh goyang syahwat, “Silakan masuk!” (seharusnya aku menjawabnya dengan Wa’alaikum Salam dengan penuh senyum).   
            Ya, saya menjawab dengan perkataan “Silakan masuk!” dengan nada kesal, juga cemberut. Kepalaku juga berisi gugatan, “siapa sih yang datang mengganggu!”. Lalu kubuka pintu, di depan pintu seorang lelaki sederhana dengan aura yang begitu mulia telah berdiri di sana, “Silakan masuk!” Lelaki itu tersenyum, dan menyalami tangan saya. Tangannya halus, terasa ada wangi harum menyeruak ke seluruh ruangan. Saya seperti terpaku dalam tatapan matanya, lembut tangan, dan wangi yang menyenangkan. “Silakan duduk, tuan!”
            Ia duduk, dan aku duduk di hadapakannya. Lidahku kelu bertemu dengan seorang tamu yang luar biasa agung. Tak ada yang bisa kukatakan sebagai pembuka, semuanya jadi membeku dalam sunyi. Sementara goyang dangdut masih tetap berputar di televisiku.
            “Saudaraku,” ia membuka percakapan yang lama tidak kumulai, “Saya datang seperti yang tertulis dalam surat kemarin…!”
            Surat? Surat yang mana. Oh ya…surat tentang kedatangan Rasulullah. Apakah ia Rasulullah? Atau salah seorang dari panitia  Muhibbah? Bagaimana saya harus meyakininya, bagaimana saya harus menjawabnya? Apa yang harus kulakukan?
            Lelaki itu tersenyum, begitu agung.
            Siapakah ia?
            Suara dangdut masih berputar-putar dalam ruangan. Aku sekali lagi masih diam. Ada seribu perasaan yang berputar-putar bergantian.
            “Apakah Anda keberatan, saudaraku?”, lelaki itu sekali lagi berkata.
            “Oh…tidak…tidak…saya tidak keberatan!”, saya segera menjawab dengan gugup. Saya tidak keberatan bila Rasulullah bertamu ke rumahku. Saya akan menjamunya, saya akan menunjukkan bahwa saya adalah salah seorang ummat manusia yang begitu mengaguminya, menjadikannya sebagai teladan dalam seluruh hidupku. Saya akan menyatakan betapa aku merindukannya, seraya menggumamkan lagu dari Bimbo: rindu kami padamu ya Rasul, rindu tiada terkira…
            Tapi bagaimana dengan suara lagu dangdut itu? Menyadari kesalahanku, saya segera permisi memohon masuk ke dalam. Segera saya matikan televisi. Saya memeriksa kamar tamu, kubereskan semuanya. Saya segera ke ruang perpustakaan. Kucari-cari al-Quran yang entah kusimpan di mana. Mungkin ia berada di tempat paling bawah, dihimpit oleh buku-buku filsafat atau buku fiksi atau buku-buku yang entah apa judulnya. Mungkin al-Quranku begitu berdebu.
            Oh ya…saya juga pernah punya buku shirah nabawiyah, tapi di mana pernah kusimpan? Buku Haikal itu pernah kumiliki tanpa sengaja, atau lebih tepatnya sangat terpaksa. Ceritanya dimulai di sebuah toko buku, saya seperti biasa memborong sejumlah buku fiksi, sastra, dan filsafat. Saat asyik memilih beberapa judul yang saya perlukan, seorang tua muncul di pinggir saya. “Nak, numpang tanya. Dimana kira-kira buku Haikal disimpan?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar