Kesibukan
selalu memberi beban dan menutupi rasa penasaran yang sempat mendesak
kesadaranku.
Saya sedang di
dalam rumah, asyik menonton TV siaran dangdut yang sedang bergoyang. Inilah
kesibukan harianku. Mendadak ada suara merdu dari arah depan , “Assalamu`alaikum…!”
Saya
mendengarnya dengan jelas, namun mata dan syahwatku sedang asyik mengikuti
goyang ngebor, atau kayang, atau
vibrator. Maka tak segera kubuka pintu, saya biarkan tamu berdiri
di balik pintu sana .
Suara Assalamu’alaikum kembali terdengar. Dengan langkah berat, saya
melangkah menuju pintu, kepala saya masih penuh goyang syahwat, “Silakan
masuk!” (seharusnya aku menjawabnya dengan Wa’alaikum Salam dengan penuh
senyum).
Ya,
saya menjawab dengan perkataan “Silakan masuk!” dengan nada kesal, juga
cemberut. Kepalaku juga berisi gugatan, “siapa sih yang datang mengganggu!”.
Lalu kubuka pintu, di depan pintu seorang lelaki sederhana dengan aura yang
begitu mulia telah berdiri di sana ,
“Silakan masuk!” Lelaki itu tersenyum, dan menyalami tangan saya. Tangannya
halus, terasa ada wangi harum menyeruak ke seluruh ruangan. Saya seperti
terpaku dalam tatapan matanya, lembut tangan, dan wangi yang menyenangkan.
“Silakan duduk, tuan!”
Ia
duduk, dan aku duduk di hadapakannya. Lidahku kelu bertemu dengan seorang tamu
yang luar biasa agung. Tak ada yang bisa kukatakan sebagai pembuka, semuanya
jadi membeku dalam sunyi. Sementara goyang dangdut masih tetap berputar di
televisiku.
“Saudaraku,”
ia membuka percakapan yang lama tidak kumulai, “Saya datang seperti yang
tertulis dalam surat
kemarin…!”
Lelaki
itu tersenyum, begitu agung.
Siapakah
ia?
Suara
dangdut masih berputar-putar dalam ruangan. Aku sekali lagi masih diam. Ada seribu perasaan yang
berputar-putar bergantian.
“Apakah
Anda keberatan, saudaraku?”, lelaki itu sekali lagi berkata.
“Oh…tidak…tidak…saya
tidak keberatan!”, saya segera menjawab dengan gugup. Saya tidak keberatan bila
Rasulullah bertamu ke rumahku. Saya akan menjamunya, saya akan menunjukkan
bahwa saya adalah salah seorang ummat manusia yang begitu mengaguminya,
menjadikannya sebagai teladan dalam seluruh hidupku. Saya akan menyatakan
betapa aku merindukannya, seraya menggumamkan lagu dari Bimbo: rindu kami
padamu ya Rasul, rindu tiada terkira…
Tapi bagaimana dengan suara lagu dangdut itu?
Menyadari kesalahanku, saya segera permisi memohon masuk ke dalam. Segera saya
matikan televisi. Saya memeriksa kamar tamu, kubereskan semuanya. Saya segera
ke ruang perpustakaan. Kucari-cari al-Quran yang entah kusimpan di mana.
Mungkin ia berada di tempat paling bawah, dihimpit oleh buku-buku filsafat atau
buku fiksi atau buku-buku yang entah apa judulnya. Mungkin al-Quranku begitu
berdebu.
Oh
ya…saya juga pernah punya buku shirah nabawiyah, tapi di mana pernah
kusimpan? Buku Haikal itu pernah kumiliki tanpa sengaja, atau lebih tepatnya
sangat terpaksa. Ceritanya dimulai di sebuah toko buku, saya seperti biasa
memborong sejumlah buku fiksi, sastra, dan filsafat. Saat asyik memilih
beberapa judul yang saya perlukan, seorang tua muncul di pinggir saya. “Nak,
numpang tanya. Dimana kira-kira buku Haikal disimpan?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar