Subyek sudah mati, rasional sudah mati, Pengarang telah mati, singkatnya
kemodernan sudah mati. Jauh hari sebelumnya seorang “gila” dari Jerman
mengungkap hal yang sama “Tuhan sudah mati”. Semua pemikiran itu bersepakat
bahwa kemodernan adalah eksperimen yang harus dihentikan dalam menata dunia
ini, namun sialnya semuanya hanya wacana tak ada perbaikan yang bisa muncul
dari wacana ini. Justru saat ini lahir neoloiberalisme, cara hidup yang
memenangkan pengusaha dan menyingkirkan orang miskin. Maka, muncullah kemarahan
dan bom meletus di mana-mana sebagai protes.
Bila benar, mereka yang
mengebom itu adalah ummatmu, betapa sedihnya engkau. Tak dapat terbayangkan
bagaimana engkau menangis menemukan orang-orang yang bershalawat padamu justru
menyebarkan laknat bagi banyak orang. Padahal engkau begitu amat santun dalam
berperang, kau bahkan tak menghancurkan satu rumah pun untuk dapat menegakkan
kebenaran agama Islam. Kau bahkan begitu santun pada Hindun, istri Abu Sufyan,
yang begitu membencimu dan memakan hati pamanmu Hamzah bin Abi Thalib.
Dalam sejarah tercatat, ketika kau
membebaskan Makkah, kau didatangi Hindun yang membencimu dengan sangat itu.
Saat itu kau menyapa dengan ramah, “Engkau Hindun binti Utbah?” Hindung
menjawab, “Benar,” mungkin saat itu ia gemetar. Tapi kau saat melanjutkan
perkataanmu di luar dugaan, “Hindun, maafkan yang telah lalu dan Tuhan akan
memaafkanmu!” Kemudian engkau bertanya pada Hindun, “Apakah kau bersedia
tidak melakukan penyelewengan-penyelewengan termasuk juga mencuri? Dapatkah keu
berjanji untuk tidak membunuh bayi-bayimu sendiri?” Saat itu kemudian Hindun
memutuskan masuk Islam, walaupun kelak dari keluarga ini bermunculan kekisruhan
dalam Islam.
Kau memafkan Hindun yang
jelas-jelas memusuhimu. Kalau kau mau kau bisa menumpasnya, tapi kau
membiarkannya merasakan welas asihmu. Tapi para pengebom itu, bila benar mereka
muslim, membiarkan banyak orang tewas dan luka-luka padahal belum tentu
orang-orang itu yang menjadi penyebab keterpurukan mereka.
Kau pasti bersedih, dan
aku tak tahu bagaimana perasaanmu yang lain. Mungkin kau akan terkenang pada
salah satu ayat al-Quran yang pernah kau terima, “Dan Hamba yang Rahman adalah
hamba yang berjalan di muka bumi tidak dengan sembong, bahkan ketika ada orang
jahil menyalahkannya, ia akan berkata salama!” Kau pernah menyampaikan
ayat ini kepada para sahabatmu, dan kini ayat itu mungkin sudah dilupakan oleh
kami.
Ayat itu, ya Rasul,
telah engkau lakukan; karena akhlakmu adalah al-Quran. Kaulah al-Quran yang
berdarah dan berdaging. Sikapmu pada Hindun adalah bukti bahwa kau adalah Hamba
yang Rahman, manusia yang mengaliri dirinya dengan sifat Rahman Allah. Konon, sifat
Rahman adalah sifat welas kepada siapapun tak pandang bulu apakah ia berlaku
baik pada kita atau tidak. Allah Rahman kepada siapapun, tak peduli apakah
orang itu taat padanya atau tidak. Hamba yang rahman adalah hamba yang tetap
memberikan kebahagiaan dalam damai kepada siapapun, tak peduli apakah orang itu
mencercanya atau menghujatnya.
Ya, Rasul saya merasa
sangsi kau tak akan menemukan hamba yang Rahman di antara kami. Soalnya, kami
memang telah melupakanmu. Jika kau memang benar-benar hendak berkunjung ke
dunia kami, saya khawatir tak ada satupun yang mengenalimu. Kau akan
terlunta-lunta, sendirian, kelaparan dan terhina.
Apakah kau akan tetap
datang? Bila memaksa, saya akan mencoba menerimamu, walaupun tak tahu bagaimana
saya harus mengenalimu. Saya bahkan tak dapat mengenali diri saya, kemusliman
saya.