Rabu, 15 Mei 2013

MEMBALAS DENGAN WELAS (2)


Subyek sudah mati, rasional sudah mati, Pengarang telah mati, singkatnya kemodernan sudah mati. Jauh hari sebelumnya seorang “gila” dari Jerman mengungkap hal yang sama “Tuhan sudah mati”. Semua pemikiran itu bersepakat bahwa kemodernan adalah eksperimen yang harus dihentikan dalam menata dunia ini, namun sialnya semuanya hanya wacana tak ada perbaikan yang bisa muncul dari wacana ini. Justru saat ini lahir neoloiberalisme, cara hidup yang memenangkan pengusaha dan menyingkirkan orang miskin. Maka, muncullah kemarahan dan bom meletus di mana-mana sebagai protes.
            Bila benar, mereka yang mengebom itu adalah ummatmu, betapa sedihnya engkau. Tak dapat terbayangkan bagaimana engkau menangis menemukan orang-orang yang bershalawat padamu justru menyebarkan laknat bagi banyak orang. Padahal engkau begitu amat santun dalam berperang, kau bahkan tak menghancurkan satu rumah pun untuk dapat menegakkan kebenaran agama Islam. Kau bahkan begitu santun pada Hindun, istri Abu Sufyan, yang begitu membencimu dan memakan hati pamanmu Hamzah bin Abi Thalib.
Dalam sejarah tercatat, ketika kau membebaskan Makkah, kau didatangi Hindun yang membencimu dengan sangat itu. Saat itu kau menyapa dengan ramah, “Engkau Hindun binti Utbah?” Hindung menjawab, “Benar,” mungkin saat itu ia gemetar. Tapi kau saat melanjutkan perkataanmu di luar dugaan, “Hindun, maafkan yang telah lalu dan Tuhan akan memaafkanmu!” Kemudian engkau bertanya pada Hindun, “Apakah kau bersedia tidak melakukan penyelewengan-penyelewengan termasuk juga mencuri? Dapatkah keu berjanji untuk tidak membunuh bayi-bayimu sendiri?” Saat itu kemudian Hindun memutuskan masuk Islam, walaupun kelak dari keluarga ini bermunculan kekisruhan dalam Islam.
            Kau memafkan Hindun yang jelas-jelas memusuhimu. Kalau kau mau kau bisa menumpasnya, tapi kau membiarkannya merasakan welas asihmu. Tapi para pengebom itu, bila benar mereka muslim, membiarkan banyak orang tewas dan luka-luka padahal belum tentu orang-orang itu yang menjadi penyebab keterpurukan mereka.
            Kau pasti bersedih, dan aku tak tahu bagaimana perasaanmu yang lain. Mungkin kau akan terkenang pada salah satu ayat al-Quran yang pernah kau terima, “Dan Hamba yang Rahman adalah hamba yang berjalan di muka bumi tidak dengan sembong, bahkan ketika ada orang jahil menyalahkannya, ia akan berkata salama!” Kau pernah menyampaikan ayat ini kepada para sahabatmu, dan kini ayat itu mungkin sudah dilupakan oleh kami.
            Ayat itu, ya Rasul, telah engkau lakukan; karena akhlakmu adalah al-Quran. Kaulah al-Quran yang berdarah dan berdaging. Sikapmu pada Hindun adalah bukti bahwa kau adalah Hamba yang Rahman, manusia yang mengaliri dirinya dengan sifat Rahman Allah. Konon, sifat Rahman adalah sifat welas kepada siapapun tak pandang bulu apakah ia berlaku baik pada kita atau tidak. Allah Rahman kepada siapapun, tak peduli apakah orang itu taat padanya atau tidak. Hamba yang rahman adalah hamba yang tetap memberikan kebahagiaan dalam damai kepada siapapun, tak peduli apakah orang itu mencercanya atau menghujatnya.
            Ya, Rasul saya merasa sangsi kau tak akan menemukan hamba yang Rahman di antara kami. Soalnya, kami memang telah melupakanmu. Jika kau memang benar-benar hendak berkunjung ke dunia kami, saya khawatir tak ada satupun yang mengenalimu. Kau akan terlunta-lunta, sendirian, kelaparan dan terhina.
            Apakah kau akan tetap datang? Bila memaksa, saya akan mencoba menerimamu, walaupun tak tahu bagaimana saya harus mengenalimu. Saya bahkan tak dapat mengenali diri saya, kemusliman saya.